Enam Buceng Porak Jadi Rebutan Ribuan Warga di Bantarangin

Enam Buceng Porak Jadi Rebutan Ribuan Warga di Bantarangin

InfoKotaReog.com – Ribuan warga memadati kawasan Monumen Bantarangin, Kecamatan Kauman, untuk mengikuti tradisi Buceng Porak dalam rangkaian Grebeg Tutup Suro 2026, Selasa (14/7/2026). Masyarakat berebut hasil bumi yang tersusun dalam enam buceng berukuran besar setelah diarak mengelilingi kawasan tersebut.

Tradisi tahunan di wilayah yang dikenal sebagai Kutho Kulon itu berlangsung meriah. Sejak sebelum prosesi dimulai, warga dari berbagai daerah di wilayah eks Pembantu Bupati Sumoroto telah memenuhi kawasan Monumen Bantarangin.

Enam buceng tersebut berbentuk gunungan yang tersusun dari palawija, buah-buahan, jajanan tradisional, hingga berbagai lauk-pauk. Setelah diarak, isi buceng kemudian diporak atau diperebutkan bersama-sama oleh masyarakat.

Buceng Porak menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan hasil bumi yang diterima masyarakat selama setahun terakhir. Tradisi tersebut juga menjadi sarana memanjatkan doa untuk keselamatan, keberkahan, dan hasil pertanian yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan Buceng Porak merupakan salah satu tradisi yang selalu dinantikan masyarakat karena tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga mengandung nilai spiritual.

“Ini memang acara yang ditunggu-tunggu masyarakat untuk mendapatkan keberkahan. Buceng ini berisi hasil bumi dan di dalamnya sarat dengan doa-doa,” ujar Lisdyarita.

Menurut perempuan yang akrab disapa Bunda Lis tersebut, hasil bumi yang disusun dalam buceng merupakan wujud syukur masyarakat atas rezeki yang telah diberikan Tuhan.

“Kita mensyukuri hasil bumi yang melimpah pada tahun lalu dan berdoa agar tahun depan mendapatkan hasil yang serupa atau lebih baik lagi. Karena itu, masyarakat menunggu Buceng Porak dan mengharapkan berkah dari doa-doa yang telah dipanjatkan,” jelasnya.

Antusiasme masyarakat terlihat ketika enam buceng mulai diperebutkan. Dalam waktu singkat, warga berdesakan untuk mendapatkan buah-buahan, sayuran, jajanan, dan hasil bumi lain yang dipercaya membawa keberkahan bagi keluarga.

Lisdyarita mengaku bersyukur melihat tingginya partisipasi masyarakat dalam tradisi tersebut. Ia berharap penyelenggaraan Buceng Porak pada tahun-tahun mendatang dapat dikemas lebih besar dan semakin meriah.

“Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun. Ke depan kami ingin acaranya bisa lebih besar lagi. Alhamdulillah, masyarakat hari ini luar biasa. Semuanya tumpah ruah dan ikut dalam prosesi Buceng Porak,” tuturnya.

Keberhasilan penyelenggaraan Buceng Porak, lanjut Lisdyarita, tidak terlepas dari dukungan pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, panitia, Karang Taruna, serta seluruh masyarakat di wilayah eks PB Sumoroto.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo berkomitmen mempertahankan Buceng Porak sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kutho Kulon sekaligus salah satu agenda utama dalam Grebeg Tutup Suro Bantarangin.

“Upaya pelestariannya dilakukan dengan terus mengadakan tradisi ini setiap tahun di Bantarangin. Pemerintah dan masyarakat akan terus bersama-sama menjaga serta melestarikannya,” pungkas Lisdyarita.

Tradisi Buceng Porak tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi serta rezeki yang diterima.***

Scroll to Top