
Beberapa waktu lalu Kabupaten Ponorogo menggelar Kirab Budaya dalam Grebeg Suro 2026, kegiatan serupa juga berlangsung di Kutho Kulon (wilayah eks PB-Sumoroto) pada Kamis, 16 Juli 2026. Sama seperti di Kutho Etan, Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro juga dinanti-nanti oleh masyarakat.
Beragam atraksi budaya, perjalanan sejarah Kerajaan Bantarangin, hingga kesenian khas Ponorogo ditampilkan dalam kirab tersebut. Kekayaan budaya yang ditampilkan semakin menegaskan identitas Ponorogo sebagai daerah yang layak menyandang julukan “Jawa Premium”, karena mampu menjaga warisan budaya sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik wisata.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan kirab budaya bukan sekadar tontonan, melainkan sarana untuk mengenalkan sejarah dan jati diri masyarakat Ponorogo kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
“Melalui kirab budaya ini kita sedang mempertontonkan kepada generasi muda dan dunia luar bahwa masyarakat Ponorogo adalah masyarakat yang kaya akan peradaban, menghormati sejarah, dan teguh menjaga kearifan lokal,” ujarnya.
Menurut Lisdyarita, citra Ponorogo sebagai daerah yang kaya budaya kini semakin dikenal luas. Bahkan, berbagai unggahan di media sosial memperlihatkan antusiasme masyarakat yang menyebut Ponorogo sebagai “Jawa Premium”.
“Kalau kita lihat di Facebook, TikTok, maupun media sosial lainnya, hari ini Ponorogo benar-benar dilihat sebagai Jawa Premium,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Lisdyarita juga menyampaikan apresiasi kepada mantan Bupati Ponorogo periode 2010–2015, H. Amin, beserta seluruh pihak yang terus memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya di Bumi Reog. Menurutnya, sinergi pemerintah, tokoh masyarakat, kepala desa, perangkat daerah, hingga berbagai lintas sektor menjadi bukti bahwa menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama.
Ia menegaskan, Kecamatan Kauman sebagai kawasan yang memiliki jejak sejarah Kerajaan Bantarangin memegang peranan penting dalam perkembangan budaya Ponorogo.
“Dalam konstelasi budaya Ponorogo, Bantarangin adalah salah satu pilar utama yang melahirkan mahakarya adiluhung, yakni seni Reog Ponorogo,” ungkapnya.
Lisdyarita berharap Grebeg Tutup Suro Bantarangin menjadi momentum untuk terus membangun Ponorogo yang maju, berbudaya, dan sejahtera. Menurutnya, pelestarian budaya juga berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Ketika pariwisata bergerak, ekonomi kreatif warga akan tumbuh dan kesejahteraan masyarakat Ponorogo pasti meningkat. Alhamdulillah, Grebeg Tutup Suro tahun ini sangat luar biasa. UMKM dari ujung ke ujung penuh, sejak siang hari para pedagang sudah berjejer dan ramai pengunjung,” pungkasnya.***
