
Infokotareog.com – Ribuan warga memadati kawasan Monumen Bantarangin, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Rabu (15/7/2026), untuk menyaksikan puncak Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026. Perhelatan bertajuk Pesona Tutup Suro itu menjadi penutup rangkaian tradisi Bulan Suro sekaligus ruang pelestarian budaya dan penggerak ekonomi masyarakat.
Sejak sore hari, pengunjung dari berbagai wilayah di Ponorogo dan daerah sekitarnya terus berdatangan. Mereka memenuhi kawasan monumen hingga panggung utama untuk menyaksikan beragam pertunjukan seni dan budaya yang disiapkan panitia.
Kemeriahan juga terlihat di sepanjang jalan menuju Monumen Bantarangin. Deretan stan usaha mikro, kecil, dan menengah menawarkan aneka makanan, minuman, jajanan tradisional, serta produk lokal. Kehadiran ribuan pengunjung turut menciptakan perputaran ekonomi bagi para pelaku usaha.
Grebeg Tutup Suro Bantarangin memiliki arti penting bagi masyarakat Ponorogo. Selain menjadi tradisi tahunan, kegiatan tersebut digelar di kawasan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan cerita mengenai cikal bakal berdirinya Ponorogo.
Acara tersebut dihadiri Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo Lisdyarita, Bupati Ponorogo periode 2010–2015 Amin, jajaran Pemerintah Kabupaten Ponorogo, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, tokoh masyarakat, serta para pegiat seni.
Camat Kauman, Toni Khristiawan, mengatakan bahwa Grebeg Tutup Suro bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Perhelatan itu menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya yang telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Bantarangin.
Menurutnya, pelestarian tradisi memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai pemerintah, komunitas seni, pemuda, pelaku usaha, hingga warga setempat.
Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah perkembangan zaman. Selain memperkuat identitas budaya, keramaian kegiatan juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produk dan meningkatkan pendapatan.
Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan bahwa budaya merupakan salah satu kekuatan besar yang dimiliki Kabupaten Ponorogo. Tradisi seperti Grebeg Tutup Suro tidak hanya menjadi sarana menjaga nilai-nilai luhur peninggalan leluhur, tetapi juga memiliki potensi mendukung pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.
Perempuan yang akrab disapa Bunda Lis tersebut mengajak masyarakat terus menjaga, merawat, dan memperkenalkan kebudayaan Ponorogo kepada generasi muda. Regenerasi diperlukan agar tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dipahami dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.
Menurut Lisdyarita, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas seni, lembaga pendidikan, dan pelaku UMKM menjadi kunci dalam pengembangan kegiatan budaya. Melalui kolaborasi tersebut, tradisi dapat tetap lestari sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
Pada kesempatan itu, Lisdyarita juga menyerahkan penghargaan kepada sejumlah pegiat seni yang dinilai telah berkontribusi dalam menjaga kebudayaan Ponorogo. Penghargaan diberikan kepada pelaku seni dari berbagai bidang, antara lain wayang kulit, ketoprak, dan reog.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada para seniman yang konsisten menyediakan ruang ekspresi dan menjaga kesenian tradisional agar tetap dikenal masyarakat.
Kemeriahan Pesona Tutup Suro semakin terasa melalui berbagai pertunjukan di panggung utama. Seniman dari Sanggar Kawulo Bantarangin bersama siswa-siswi perwakilan sejumlah sekolah di wilayah eks Pembantu Bupati Sumoroto menampilkan beragam kesenian di hadapan ribuan penonton.
Penampilan para seniman dan pelajar mendapat sambutan meriah. Tepuk tangan dan sorak penonton mengiringi jalannya pertunjukan hingga malam hari.
Keterlibatan para pelajar menjadi bagian penting dalam proses regenerasi kebudayaan. Mereka tidak hanya tampil sebagai pengisi acara, tetapi juga belajar mengenal, memahami, dan melestarikan kesenian daerahnya.
Perpaduan antara tradisi, pertunjukan seni, partisipasi masyarakat, dan geliat UMKM menjadikan Pesona Tutup Suro Bantarangin 2026 lebih dari sekadar pesta rakyat. Perhelatan tersebut menjadi cerminan semangat masyarakat Ponorogo dalam menjaga identitas daerah sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Tingginya antusiasme masyarakat kembali menegaskan posisi Grebeg Tutup Suro Bantarangin sebagai salah satu agenda budaya penting di Kabupaten Ponorogo. Tradisi tersebut mampu menyatukan unsur sejarah, seni, hiburan, regenerasi budaya, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu perhelatan.***
