Di Hadapan Cendekiawan Muslim, Bunda Lis Titipkan Kemajuan Ponorogo

Di Hadapan Cendekiawan Muslim, Bunda Lis Titipkan Kemajuan Ponorogo

Infokotareog.com – Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, meminta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Ponorogo berkontribusi dalam pembangunan daerah. Ia berharap para cendekiawan muslim menghadirkan pemikiran, inovasi, dan solusi untuk mewujudkan Ponorogo Hebat.

Permintaan tersebut disampaikan Lisdyarita dalam pelantikan Pengurus ICMI Orda Ponorogo masa bakti 2026–2031 di Pendopo Kabupaten Ponorogo, Minggu (19/7/2026). Bupati yang akrab disapa Bunda Lis itu menilai Ponorogo sedang berada dalam tahap penting untuk memperkuat pembangunan fisik dan kualitas sumber daya manusia.

“ICMI ini kudu bangkit. Ponorogo sedang dalam tahap membangun. Kami habis jatuh. Hari ini kami mohon bantuan dari teman-teman semuanya. Ayo bantu kami berpikir untuk Ponorogo yang kita cintai ini,” ujar Lisdyarita.

Menurutnya, pemerintah daerah tidak dapat menjalankan pembangunan seorang diri. Dukungan dari seluruh unsur masyarakat, termasuk akademisi, pesantren, pelaku usaha, organisasi profesi, dan cendekiawan muslim, sangat dibutuhkan.

Lisdyarita memandang ICMI memiliki posisi penting dan strategis dalam kehidupan masyarakat. Organisasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat berhimpunnya cendekiawan, tetapi juga mampu menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat.

“Saya berharap ICMI dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah,” ujarnya.

Ia juga mengajak jajaran pengurus ICMI Orda Ponorogo untuk menjaga persatuan, memperkuat moderasi beragama, dan menyusun program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami mengucapkan selamat bertugas kepada pengurus ICMI Orda Ponorogo yang baru dikukuhkan. Semoga niat baik dan cita-cita kita semua mendapat berkah serta rida dari Allah Swt.,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua ICMI Orda Ponorogo, Fajar Pramono, menyatakan kesiapan organisasinya untuk mengabdikan ilmu bagi kemajuan masyarakat. Ia menegaskan bahwa ICMI tidak boleh berhenti sebagai organisasi tempat berkumpulnya para cendekiawan.

“ICMI lahir bukan sekadar menjadi organisasi para cendekiawan, melainkan sebagai ruang pengabdian ilmu bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara,” kata Fajar.

Menurutnya, hubungan ICMI dengan pemerintah harus dibangun melalui kemitraan yang bermartabat. ICMI harus mampu bersikap kritis, konstruktif, dan solutif tanpa kehilangan integritas keilmuan.

“Pilihan ICMI sangat jelas, yaitu menjadi mitra strategis pemerintah yang menghadirkan gagasan, kritik membangun, inovasi, dan solusi bagi masyarakat. ICMI tidak boleh menjadi alat kepentingan yang menjauhkan ilmu dari nilai kebenaran dan keadilan,” tegasnya.

Fajar mengatakan sejarah peradaban Islam telah menunjukkan besarnya peran cendekiawan dalam mendukung kemajuan pemerintahan dan masyarakat. Para ilmuwan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memberikan arah bagi perkembangan pendidikan, teknologi, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Karena itu, pengurus ICMI Orda Ponorogo akan mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Salah satu sektor yang mendapat perhatian ialah usaha mikro, kecil, dan menengah.

Fajar menilai akademisi dan pelaku UMKM perlu membangun hubungan yang saling menguatkan. Pelaku UMKM dapat memperoleh dukungan ilmu, teknologi, jejaring, pendampingan, dan inovasi. Pada saat yang sama, akademisi dapat belajar mengenai ketangguhan, kreativitas, dan kemampuan pelaku usaha dalam menghadapi tantangan ekonomi.

“Tugas ICMI adalah menghadirkan ilmu, teknologi, jejaring, pendampingan, dan inovasi agar UMKM naik kelas, memiliki daya saing, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” jelasnya.
Disisi lain, ketua ICMI Organisasi Wilayah Jawa Timur, Pitono Nugroho, mendorong ICMI Orda Ponorogo merumuskan kembali tujuan organisasi sesuai tantangan pembangunan daerah. Ia ingin ICMI menghadirkan kontribusi nyata untuk mewujudkan Indonesia Emas.

Menurut Pitono, Ponorogo memiliki posisi strategis dengan kekuatan utama pada sektor ekonomi hijau. Potensi tersebut didukung oleh keberadaan lebih dari 55 ribu UMKM yang tersebar di berbagai wilayah.

“UMKM Ponorogo berjumlah lebih dari 55 ribu. Ini merupakan kekuatan yang luar biasa,” katanya.

ICMI, lanjutnya, dapat berperan dalam memperkuat kapasitas UMKM melalui riset, digitalisasi, peningkatan kualitas produk, penguatan pemasaran, dan perluasan jejaring usaha. Langkah tersebut penting agar potensi ekonomi daerah mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata.

Pitono menambahkan, keberhasilan pembangunan nasional bergantung pada kinerja pembangunan di tingkat daerah hingga desa. Indonesia Emas hanya dapat terwujud apabila provinsi, kabupaten, kota, desa, dan rumah tangga memiliki ketahanan serta daya saing yang kuat.

“Indonesia Emas mustahil terwujud tanpa Provinsi Emas. Provinsi Emas juga mustahil terwujud tanpa Kabupaten dan Kota Emas. Demikian pula Kabupaten dan Kota Emas tidak akan tercapai tanpa desa-desa serta rumah tangga emas,” ujarnya.

Ia juga mendorong percepatan transformasi digital menuju Ponorogo Smart City. Menurutnya, ICMI memiliki sumber daya intelektual yang memadai untuk membantu pemerintah daerah mengembangkan pelayanan publik dan pembangunan berbasis teknologi.

ICMI Jawa Timur menargetkan penguatan keanggotaan dengan melibatkan sekitar 5.000 hingga 6.000 cendekiawan dari perguruan tinggi, pesantren, dan aparatur sipil negara. Kekuatan tersebut diharapkan menjadi modal intelektual untuk membantu pembangunan Jawa Timur, termasuk Kabupaten Ponorogo.

“Ribuan orang dengan kapasitas dan kompetensi yang luar biasa merupakan sebuah kekuatan besar. Kekuatan itu harus kita hadirkan sebagai darma kepada bangsa dan negara, termasuk untuk membangun Kabupaten Ponorogo,” pungkas Pitono.

Scroll to Top